Cerita Dewasa | Ngentot Sadap Dengan Mama Nita Hot

Ditulis oleh: -


Berikut Cerita yang Berjudul "Cerita Dewasa Ngentot Mama Nita "


Nama ku Bimo, aku telah beristri dan bekerja di sebuah Perusahaan Swasta, Istriku cukup lumayan cantik dan seksi luar dalam, namun yang akan aku ceritakan ini bukan soal hubungan seks ku dengan istri ku melainkan soal hubungan ku dengan seorang tante setengah baya namun kami sekeluarga memanggilnya dengan sebutan Mama agar lebih akrab.

Namanya Nita merupakan Istri dari Paman Istriku. Sebenarnya Nita merupakan istri kedua paman istriku. Mama Nita cukup Cantik walau tidak terlalu tinggi, kulitnya terbilang putih mulus, walau bersetatus tante atau lebih tua dari istriku tapi masih begitu segar. Lekuk tubuh sensualnya masih mengencang, mulai dari payudaranya masih terangkat keatas dan bulat menonjol menggairahkan. Putingnya juga masih seperti milik seorang gadis dengan perut yang sixpeck begitu juga pinggul dan pantatnya masih menonjol dan montok. Mama Nita jelas saja tubuhnya masih indah karena ia belum pernah hamil dan ternyata selama 5 tahun berumah tangga dengan Paman Istriku, boleh dikatakan hanya 1 tahun dia digauli sebagaimana layaknya seorang istri, selebihnya selama 4 tahun hanya dia bisa nikmati dengan sentuhan tangan suaminya, Itu semua dia alami karena sang suami memiliki penyakit Jantung kronis dan kini suaminya sudah meninggal.

Singkat cerita, Mama Nita sudah lebih kurang 1 tahun menjanda ia pun tidak bekerja dan juga tidak memiliki usaha. Peninggalan suaminya pas-pasan oleh karenanya aku dan istriku sudah berniat untuk membelanjakan atau memberikan nafkah kepada Mama Nita, mulai dari urusan bayar telepon, Listrik, sampai urusan belanja dapur. Hidupnya sehari-hari ditemani dengan seorang pembantu rumah tangga yang juga menjadi tanggungan kami.

Setiap dua minggu sekali istriku selalu datang menemui Mama Nita untuk menjenguk sekaligus membawanya belanja keperluan dapur ke Supermarket, aku paling hanya telepon dan paling sebulan sekali menjenguknya. Semua ini kami lakukan hitung-hitung balas budi, karena sewaktu suaminya masih ada dan kondisi kehidupan kami belum mapan kami banyak dibantunya. Suatu ketika istriku tidak dapat pergi untuk menjenguk Mama Nita, padahal sudah jadwalnya untuk belanja keperluan dapur bulanan Mama Lina. Istriku kurang enak badan, ya terpaksa aku menggantikannya dan hal ini bukan yang pertama kali, aku sudah sering menggantikan peran istriku menemani Mama Nita, namun yang kali ini suatu hal yang luar biasa.

aku sudah tidak canggung lagi dengan Mama Nita, karena sudah biasa bertemu dan bahkan sudah seperti Ibu ku sendiri. Soal tidur, kami sering tidur bertiga, bahkan pernah suatu siang aku dan mama Nita tidur berdua dikamar, karna sudah terbiasa maka itu bukan hal aneh lagi, namun kali ini kejadiannya tidak terencana dan sangat mengagetkan. Selesai jam kerja di sore hari, aku langsung menuju kerumah Mama Nita untuk menggantikan istriku menemani Mama Nita belanja keperluan dapur sebagaimana rutinnya. Setibanya di rumah Mama Lina aku langsung memarkirkan mobil ku di depan garasi rumahnya.

“Sore Ma……!” Sapa ku sambil menghampiri Mama Nita yang sedang tiduran di sofa sambil menonton TV, kucium tangannya dan kedua pipinya. Hal ini adalah kebiasaan di keluarga kami kalau bertemu dalam satu keluarga.

“Dengan siapa kamu Bim…?” Mama Nita bertanya sambil melirik kearah pintu utama dan melihat ku dengan kening dikerut.

“Ya dengan Mobil Ma …..!” Jawab ku santai dan berbalik ke arah Lemari Es untuk mengambil segelas air dingin.

“Jangan bercanda …., Mama Tanya beneran “

“Bimo tidak bercanda Ma…., Bimo jawab benaran “ sekarang aku duduk di bangku tamu didepan sofanya, sambil ikutan menonton TV.

“Maksud Mama, Eva tidak ikut ?” Eva adalah Istri ku.

“Eva lagi tidak enak badan, jadinya Bimo yang kesini” Jawab ku sambil mengalihkan pandangan dari Tv kearah Mama Nita, namun pandanganku terhenti di kedua panggkal pahanya yang sedang dilipat dan saling bertindihan. Kusadari Mama Nita tidak sadar kalau dasternya tersingkap atau dia tahu tapi karena hal ini sudah biasa maka tidak ada masalah bagi kami.

Kali ini aku merasakannya agak aneh, kog aku merasa terangsang dengan pandangan ini. aku sadar sehingga kualihkan secepatnya pandanganku lagi kearah TV, tapi perasaan ku menggoda, sehingga aku mencoba mecuri pandang dengan melirik kearah paha tadi, hati semakin tidak tenang, pikiranku mulai tidak normal. Kucoba membuang fikiran yang sudah mulai tidak menentu arah.

“Ma….. !`” sapaan ku berhenti, aku ingin menggajak nya bicara tapi pada saat aku menyapa sacara bersamaan aku memalingkan pandangan ku lagi kearah wajah Mama Nita, tapi pandangan ku berhenti di bagian dada Mama Nita yang terlihat gundukannya dikarenakan belahan dastrernya pada bagian dada melorot kesamping, karena pada saat itu posisi tidur Mama Nita disofa miring.

” Ada apa Bim… ” Tanya nya mengagetkan ku, aku segera memalingkan pandanganku kewajahnya.

” Ayo Ma…, rapi-rapi, sudah hampir jam 7 nich, nanti Supermaket tutup”

”Bim…, badan Mama rasanya lemes, kurang bersemangat, bagaimana kalau besok aja kita belanjanya”

” Yah … Mama ….., Bimo udah sampai disini, lagi pula besok Bimo ada kerja lembur, dan iya kalau Eva sudah enakkan dan bisa kesini. ”

“Ya udah kapan kapan aja “ sambutnya lagi,

“Enggak ah Ma… sekarang aja, nanti kalau ditunda-tunda jadi enggak jadi kayak dulu”

“Kamu memang orangnya keras kepala Bim, kalau ada maunya tidak bisa ditunda”

“Ya sudah Mama salin dulu, tapi kalau nanti Mama jadi sakit kamu yang repot juga”

Akhirnya dengan malas dia bangun dari sofanya menuju kamar, akupun melanjutkan menonton Tv. Selang beberapa menit aku menunggu dengan tidak sabar, akupun melirik kearah pintu kamar, dan tiba tiba mata ku terperanjat melihat pandangan didalam kamar, kulihat Mama Nita membelakangi pintu kamar dengan hanya menggunakan celana dalam tanpa BH, sayangnya posisinya juga membelakangi ku sehingga aku hanya bisa menikmati lekukan tubuhnya dari belakang, dan cukup indah masih seperti anak remaja, semuanya serba ketat dan gempal. aku semakin kacau.

Kuperhatikan terus dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, rambut yang terurai semakin menggairahkan ku. Kulihat Mama Nita sedang memakai Baju Kemeja putih berenda, wah rupanya dia tidak memakai BH, setelah itu dia pakai celana Jean ketat panjangnya tiga-per-empat, dan langsung berbalik kearah pintu kamar, aku dengan cepat juga memalingkan muka kearah Tv seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi tadi di kamar.

“Ayo Bim …. Kita jalan “, sapa Mama Nita yang sudah keluar dari kamarnya, dan akupun meraih remote TV untuk mematikan TV, sambil bangun dari sofa yang aku duduki.

“Kalau nanti Mama sakit, kamu harus tanggung ya Bim !” Mama Nita membuka lagi pembicaraan setelah beberapa menit kami meninggalkan rumahnya dan Mama Nita sedang menikmati jalan sambil duduk disebelahku. aku sambil memegang setir mobil menjawab dengan santai dan manja.

” Ya …. Iya dong Ma…., siapa lagi yang ngurus Mama kalau bukan Bimo.”

” Mama sambil rebahan ya Bim..?” pintanya sambil merebahkan sandaran jok mobil yang didudukinya.

” Boleh kan Bim..?” pintanya lagi sambil memegang tangan kiriku, tapi saat ini posisi Mama Nita sudah rebah dan terlentang, seolah-olah memerkan dadanya yang menonjol menggairahkan itu.

aku menoleh kesamping kearah Mama Nita sambil mengangguk, tapi lagi-lagi pandanganku terhenti didada Mama Nita, yang terlihat samar lekukannya dari balik bajunya yang sengaja tidak dikancing pada bagian atasnya. Kuarahkan lagi pandangan ku kejalan raya agar tidak terjadi apa-apa. Setibanya di Supermarket mobil aku parkirkan ditempatnya dan kami pun berjalan menuju kedalam supermarket sambil bergandengan, Mama Nita mengait tanganku untuk digandolinya, hal ini sudah biasa bagi kami, tapi kali ini darah ku berdesar-desar saat bergandengan tangan dengan Mama Nita, bagaimana tidak berdesar, yang sedari tadi dalam fikiran ku terlintas terus lekukan buah dada Mama Nita kini tersenggol-senggol mengenai siku kiri ku seirama dengan gerakan langkah kami selama menuju kedalam Supermarket.

Setibanya didalam supermarket aku langsung menyambar lorry yang berada disisi pintu masuk supermarket, dan kami pun bergandengan lagi menuju ke barisan etalase keperluan Rumah tangga. Satu persatu barang keperluan dapur dipilih dan diambil oleh Mama Nita, akupun asik dengan kegiatan ku sendiri memperhatikan lekukan badan Mama Nita yang masih mengencang yang bergerak terus kadang merunduk dan berdiri lagi sambil ia memeriksa barang yang terdapat dietalase. Khayalan ku terhenti karena sapaannya.

” Bimo coba kamu lihat labelnya ini, apakah jangka waktunya masih berlaku tidak “ pintanya sambil jongkok dan dan tanpa melihatku kebelakang dengan tangan memegang sebuah makanan kaleng yang disodorkan kepada ku. Kemudian aku bergerak mendekati Mama Nita dan berdiri tepat disampingnya yang sedang jongkok, kuambil makanan kaleng yang ada ditangannya dan kuperhatikan dengan seksama label masa berlaku yang dimaksud.

” Masih lama nih Ma……” Jawab ku sambil mengembalikan makanan kaleng tadi kepada Mama Nita, yang saat ini posisinya sedang membungkuk memperhatikan barang-barang yang lain.

aku terperanjat melihat dua buah gunung yang menempel di dada Mama Nita, terlihat jelas karena posisinya yang membungkuk sehingga bajunya menggantung kebawah. Buah dada yang indah, masih mengencang dan memiliki puting yang masih kencang dan tidak terlalu besar, maklum karena Mama Nita belum pernah menyusui bayi. Bentuknya masih bagus, tanpa keriput sedikitpun di sekitar putingnya, putih mulus dan terawat dengan baik. Ada sekitar sepuluh detik aku memperhatikannya, terhenti karena Mama Nita berdiri dan bergeser posisi. Kini akupun tetap berada disampingnya, dengan maksud untuk mendapatkan kesempatan memandang seperti tadi, dan benar Mama Nita sebentar-bentar menunduk, dan kesempatan itu tidak aku lewati dengan langsung mengincar pandangan buah dada yang indah itu. Sudah lebih kurang setengah jam kami mengitari etalase demi etalase, tiba-tiba dari posisi jongkok Mama Nita meraih tangan kiriku yang sedang berada disebelahnya. Sambil menggandul ditanganku Mama Nita berdiri dan merapatkan badannya disisi badan ku langsung meletakkan wajahnya di bahu kiri ku sambil bergumam.

” Mama pusing Bim.. Mama udah enggak kuat lagi” Kemudian tangan kiri ku mengait pinggul Mama Nita setengah memeluk dan berkata,

“Ya.. sudah Ma, kita pulang aja, kalau masih ada yang kurang belanjaannya bisa dibeli di warung dekat rumah aja” Tanpa menunggu jawaban Mama Nita, sambil tetap merangkulnya tangan kanan ku meraih kereta dorong belanjaan dan berjalan menuju Kasir.

Selesai membayar semua belanjaan aku pun meminta petugas kasir untuk membantu membawakan barang ke Mobil, sementara aku berjalan didepan sambil merangkul Mama Nita. Yang kurasakan sekarang buah dada Mama Nita menempel di rusuk kiri ku, dan nafasnya yang wangi sangat terasa disisi pipi ku. Setibanya di Mobil aku pun membukakan pintu dan membimbing Mama Nita masuk ke Mobil, perlahan aku dudukan dan kurebahkan ke kursi yang berada disebelah supir, dan sambil kedua tangan ku menahan badan Mama Nita rebah, tersenggol lah kedua sisi buah dadanya oleh tangan ku, aduh… alangkah kerasnya tuh buah dadanya.

Diperjalanan pulang kutanyakan apakah perlu diperiksa ke dokter, tapi Mama Nita mengatakan tidak perlu, karena dia hanya merasa pusing biasa, mungkin masuk angin. aku pun menyetujui dan langsung mengarahkan mobil ke rumah Mama Nita. Kusempatkan memegang kening Mama Nita dengan tujuan memeriksa apakah badannya panas atau tidak. Kupalingkan pandangan ku sekali sekali kearah Mama Nita yang tiduran disamping.

“Masih pusing Ma….., Tanyaku.

“Sedikit ….. ” jawabnya singkat.

“Ntar juga sembuh Ma …….”.

Pembicaraan kami terhenti dan diam beberapa saat. Mobil aku parkir didepan rumah, dan dengan bergegas aku turun terus menghampiri sisi pintu kiri mobil untuk membukakan pintu bagi Mama Nita, pintu pun ku buka, kulihat Mama Nita terasa berat mengangkat badannya dari Jok Mobil.

“Bantu Mama dong Bim…., dasar tidak bertanggung jawab ” hardiknya manja.

akupun langsung merangkul pinggulnya turun dari Mobil dan langsung memapah kedalam rumah. Setibanya didepan pintu masuk Mbok Atik pembantu Mama Nita membukakan pintu dan aku sambil membopong Mama Nita memerintahkan Mbok Atik untuk menurunkan barang serta mengunci kembali mobilnya.

“Mama mau tiduran di Sofa atau dikamar?”

“Dikamar aja Bim” Kami pun menuju kamar, dan aku langsung membaringkan Mama Nita terlentang di tempat tidur. Mama Nita pun berbaring sambil memegang kepalanya.

“Bimo balur minyak kayu putih dulu ya perut Mama, setelah itu Bimo pijit kepala Mama” Pintaku.

Mama Nita diam saja, dan aku mengartikan dia setuju, akupun langsung beranjak mengambil minyak kayu putih yang tersedia di tempat obat. Kuangkat sedikit baju kemeja bagian bawah Mama Nita sampai batas rusuk bawahnya, dan akupun membalurkan minyak kayu putih tadi, dengan lembut aku lakukan.

“Ma … Kancing celana Mama di lepas ya… biar lega bernafas” aku tahu dia pasti tidak menjawab dan aku pun langsung melepas kancing celana nya.

Selesai aku membalur bagian perutnya dan tanpa meminta ijin aku membalur bagian dada atasnya, saat itu Mama Nita kuperhatikan sedang memejamkan matanya sambil kedua tangannya memegangi kepala. Dan aku duduk diatas tempat tidur disisi kanan Mama Nita. Sesuai janji ku, selesai membalur akupun mulai memijit kepala Mama Lina, perlahan kutarik kedua tangannya kebawah, dan tanpa kusadari tangan kanannya jatuh diatas pangkal paha ku hampir mengenai punya ku.

Perlahan aku pijit dengan lembut kepalanya, dia pun menikmatinya, tiba-tiba aku teringat pemandangan yang indah sewaktu di supermarket tadi, dua gundukan daging yang menggairahkan, seketika itu juga pandangan ku berpindah ke dada Mama Nita, tapi sial yang terlihat hanya bagian atasnya, bajunya hanya terkuak sedikit pada saat aku membalurkan minyak kayu putih pada bagian dada tadi.

“Bim …. Jangan pulang dulu…, temani Mama sampai enakan” aku terkejut dengan suara tadi dan akupun memalingkan muka ku kearah wajah Mama Nita, sambil mengangguk.

Pijitan ku terus pada kepala Mama Nita, dan Dia pun kembali memejamkan matanya. Terasa capek karena posisi ku memijit agak membungkuk, akupun pindah duduk di lantai karpet. Sekarang posisi memijit ku sambil duduk dilantai dengan kepala aku tidurkan ditempat tidur, pas berada disamping buah dada Mama Nita.Karena mungkin terlalu capek, akupun tertidur pulas, ada mungkin 15 menit, dan aku terbangun karena tekanan buah dada sebelah Kanan Mama Nita pada ubun-ubun kepala ku.

Kuangkat kepala ku, kudapatkan Mama Nita sedang tidur miring kekanan menghadap ku, dan tanpa kusadari sekarang pipi ku menempel langsung pada bagian atas buah dada kanan Mama Nita. aku tidak berani bergerak, kudiamkan saja pipi ku menempel, tapi barang ku mulai bergerak mengeras. Ada lebih kurang satu menit aku terdiam pada posisi ini, dan tiba-tiba Mama Nita memindahkan tangan kirinya yang sedari tadi di atas paha nya ke bahu ku tepat dibawah leher, seolah-olah memeluk ku. Gerakan Mama Nita tadi menyebabkan bajunya yang terkuak nyangkut di dagu ku dan tertarik kebawah, sehingga makin terbuka lebar buah dada yang terbuka, dan kepala ku juga ikut terdorong kebawah dengan posisi tidur Mama Nita masih miring dan yang menyenangkan bagi ku ialah puting susu kanan yang kecil mungil tadi berada satu centimeter diujung bibir ku.

aku heran dan gemeter, apakah ini sengaja dilakukan oleh Mama Nita, dan apakah dia benar-benar tidur sehingga tidak mengetahui keadaan ini. Sementara fikiran ku bertanya-tanya tanpa kusadari lidah ku sudah mulai menjilati pinggiran puting yang kecil mungil dan halus itu, terus aku jilati sepuas ku dan perlahan aku geser kepala ku sedikit agar lebih dekat dan dapat mengisap serta mengulumnya. Kini aku isap putting yang menggairahkan itu.

Mama Nita masih memejamkan matanya, entah tidur atau tidak tapi aku sudah tidak perduli lagi dan perlahan aku buka satu lagi kancing baju atasnya, agar aku bisa lebih leluasa menjilati buah dada yang indah ini. Tiba-tiba ada gerakan pada kaki Mama Nita, dan dengan segera aku lepas kuluman bibir ku di putting Mama Nita dan aku ber pura-pura tidur, wah bener Mama Nita menggerakkan badannya dan berpindah posisi miring membelakangi ku.

Untuk beberapa saat aku terdiam sambil memperhatikan punggung Mama Nita, namun fikiran ku terus merayap mencari akal agar aku dapat menikmati buah dada yang montok tadi, maklum nafsu ku sudah mulai tidak bisa dibendung, untuk pulang kerumah menyalurkannya perlu waktu lagi, sementara disini sudah mulai dapat kesempatan, apalagi aku tahu Mama Nita sudah bertahun-tahun tidak pernah di sentuh barang sakti, pasti vaginanya sudah mulai rapat dan ketat lagi. Akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri naik ketempat tidur dan berbaring disebelah Mama Nita dengan posisi miring menghadap punggung Mama Nita.

Untuk beberapa saat aku merfikir memulainya dari mana, aku bingung, tapi akhirnya aku putuskan untuk memeluk Mama Nita dari belakang dengan melingkarkan tangan kanan ku ketengah dadanya. Perlahan ku tempelkan telapak tangan ku bagian atas buah dada kiri Mama Nita, Wah…. benjolannya masih keras, pelan ku gerakkan tangan ku turun ke bagian tengah buah dadanya, sekarang posisi tangan ku sedang mempermainkan puting buah dada Mama Nita sambil sebentar - sebentar meremasnya.

Kurasakan badan Mama Nita bergerak dan akupun berhenti dalam permainan ku sejenak dalam posisi masih memeluk Mama Nita dan tangan ku masih berada diatas gundukan buah dada Mama Nita. Bersamaan akan aku mulai lagi permainan ku tadi, karena aku anggap Mama Nita sudah pulas lagi, ku dengar suara serak dan parau dari sebelah ku.

“Bim dari tadi Mama tahu kalau Bimo mimik dan sekarang pegangi susu Mama “ suara ini datangnya dari Mama Nita. aku sangat terkejut dan kaku sekujur tubuh ku dingin, takut dan bersalah.

“Ma …..” belum selesai aku berbicara tiba–tiba tangan ku yang berada diatas buah dada Mama Nita dipegangnya dan ia berkata

“Tidak apa-apa Bim……., kalau kamu masih belum puas teruskan aja, asal kamu bisa memberi kesenangan pada Mama”

Tanpa menunggu aba-aba lagi dari Mama Nita, aku segera menarik badan Mama Nita sehingga pada posisi telentang, dan karena kancing bajunya sudah terbuka setengah maka terkuak lah buah dada yang aku remas -remas tadi.

“Bimo akan memberikan kepuasan yang telah lama hilang dari Mama malam ini” selesai berkata demikian, aku langsung menerkam dan melumat bibir mungil yang dihadapan ku.

Permainan bibir berjalan sangat panjang, kami saling bertukar menghisap bibir atas dan bawah, saling mempermainkan lidah, bagaikan dua orang yang sudah lama tidak berciuman. Permainan bibir dan ciuman kuhentikan dan aku berkata lembut sambil memandangi mata Mama Nita yang sudah mulai layu.

“Mama sudah puas ciuman Ma ……..” dia tersenyum dan mengangguk.

“Sekarang Mama nikmati ya……., Mama diam dan nikmatilah, Bimo akan memberikan kesenangan yang Mama minta”

Perlahan aku pelorotkan badan ku yang ada diatas Mama Nita turun kebawah, sehingga muka ku persis diatas dada Mama Nita. Ku ciumi lembut leher kirinya dan perlahan berputar ke leher sebelah kanan, setelah puas dengan ciuman di leher, ciuman aku pindahkan kebagian atas dada Mama Nita.

Pertama aku ciumi dan aku jilati gundukan kedua dadanya, dan bergeser kebagian tengah, kini aku kitari keliling gundukan buah dada yang kanan dan sekarang yang kiri. Perlahan ku rambatkan juluran lidah ku keatas puting susu kiri Mama Nita dan kuisap sedikit-sedikit sambil menggigit halus. Kuraskan kedua tangan Mama Nita mulai mendekap badan ku, dan kurasakan juga Mama Nita mulai menggerak-gerakkan pinggulnya yang kutahu dia sedang mencari ganjalan agar menekan tepat dibibir vaginanya. aku pindahkan lagi kuluman dan permainan bibir ku ke puting susu Mama Nita yang sebelah kanan, Mama Nita makin bergerak agak cepat, dia mulai terangsang penuh.

“Enak Ma….., ??? Mama Senang .??…..”sambung ku lagi.

“Bimo …. Mama senang, Mama Puas….., Kamu pinter, kamu lembut …….anak manis, …… Mama sudah lama sekali tidak merasakan ini, Mama ….mau kalau setiap ketemu Kamu cium dan mimik Mama………”“Bim ……, lagi nak ……., jangan terlalu lama ngobrolnya, teruskan aja apa yang kamu mau lakukan, Mama pasti senang”.

“Cium lagi Bim ….., Mimik lagi anak manja …..’”

aku pun meneruskan permainan lidah ku di kedua susu yang mentul dan keras itu. Perlahan ciuman dan jilatan ku turun ke bawah sambil aku melorotkan lagi badan ku, kini kaki ku sudah menyentuh lantai. Ku ciumi perlahan perut Mama Nita terus kebawah sambil membuka resliting celana Mama Nita. Sekarang posisi ciuman ku sudah berada dibagian bawah pusar Mama Nita, kira-kira satu centi lagi diatas klitoris Mama Nita.

Badannya mulai bergerak tidak menentu, pinggulnya naik turun seakan ingin segera ujung lidah ku menyentuh belahan yang sudah mulai membasah ini, sesekali kudengar suara desis dari bibir mungil Mama Nita dan nafas yang sudah mulai tidak menentu.

“ahhkk…. Hek …….ehhhh, yaa…hhhh Bimo……”

Perlahan kutarik dan lepaskan celana jean dan sekaligus celana dalam Mama Nita, badan dan kakinya ikut dilenturkan agar mudah aku melepaskan celana yang menutupi vaginanya.Sekarang celananya sudah terlepas tidak ada lagi yang menutupi kulit mulus Mama Nita dari pusar kebawah, sementara kancing baju yang dipakainya sudah kubuka semua dan telah terbuka lebar. aku terdiam sejenak dan memandangi tubuh mulus Mama Nita yang sedang telentang pasrah sambil memejamkan matanya. Kupandangi dari kedua buah dadanya sampai ketengah selangkangannya yang menjepit vagina yang ditumbuhi bulu halus dan pirang, Berulang kali aku pandangi, akhirnya aku terkejut oleh suara Mama Nita.

“Anak manja, apa sudah selesai kamu puaskan Mama, atau Mama cukup kamu pandangi saja seperti itu??”

“Tentu tidak Mama sayang ……, Mama akan mendapatkan kepuasan yang belum pernah Mama dapatkan sebelumnya, tapi Bimo tidak akan menyia-nyiakan pemandangan yang langka ini, jadi Bimo puas-puaskan dulu memandangi Mama….”

“Ayo lah Ren…., mama sudah tidak sabar lagi merasakan kepuasan yang kamu janjikan….., kamu bisa memandang Mama kapan saja dan dimana saja nanti, Mama pasti kasih asal kamu selesaikan dulu sekarang”
Tanpa menjawab apa-apa lagi aku pun berlutut diujung kakinya di tengah kedua kakinya. Perlahan aku elus dengan kedua tangan ku kedua kaki Mama Nita mulai dari bawah betisnya sampai kepangkal pahanya ber-ulang kali naik turun sambil kedua ujung jari ku menyentuh sekali-sekali bibir kiri dan kanan Vaginannya. Rangsangan mulai dirasakan Mama Nita, kaki dan pinggulnya mulai bergerak dan kejang-kejang. Melihat hal itu aku langsung membungkuk dan menjilati sekeliling bibir Vagina Mama Nita.

Tercium aroma khas vagina yang terawat dan basah, dan aku yakin kalau vaginan ini sudah bertahun-tahun tidak disentuh benda keras, kelihatan rapat dan tidak berkerut seperti genjer ayam, satu keuntung besar aku dapatkan. Permainan lidah ku berlangsung semakit lincah dan sembari menggigit dan menghisap bagian klitoris yang benar sensitive itu.

“Bim.. Enak sekali Bim.. kamu benar.. Mama belum pernah merasakan jilatan seperti ini, sungguh sayang, ahhhkkk Bim, aahhhh ehhhhhhhlk .. “ sambil bergumam Mama Nita menarik rambut ku dengan kedua tangannya agar aku merapatkan dan menekan bibir ku kuat ke Vaginannya.

“Jangan berhenti Bim ….. , Mama puas…., Mama ahhkk…. Mam….., Mama menikmatinya Bim ……. Uhhh…..”

“Kamu apain Bim……, Tobat anakku….., ampun … Mama ……..ahkkkkk ahhhhhhh enak Bim……,”aku tidak perdulikan ocehannya, terus aku jilati vaginanya yang semakin basah, kutahan pinggulnya dengan kedua belah tangan ku agar tidak menggangu permainan ku dengan rontakan nya.

Tiba - tiba aku rasakan kepala ku diangkat keatas dan kulihat Mama Nita sudah duduk dihadapan ku, dengan cepat kedua tangan Mama Nita meraih ikat pinggang dan kancing celana ku, dan membuka resliting celnaa ku. Kurasakan darah ku mengalir cepat dan bulu roma ku berdiri pada saat tangan kanan Mama Nita menelusup masuk kedalam celanaku dan mengelus batang kemaluan ku.

Ku diamkan saja apa Maunya. Mama Nita terus mengelus sembari meremas remasa kelamin ku. Dengan tidak sabar di pelorotinya celana ku, dan karena posisi kuberdiri dengan lutut diatas tempat tidur dihadapan Mama Nita, sehingga gerakan tanganya melorotkan celanaku dan celana dalam ku berhenti di lutut ku, tapi itu semua sudah cukup untuk membuat kemaluan ku tidak tertutup lagi

“Bimo ….. besar sekali kamu punya “ di berkata sambil mengelus-ngelus batang dan kantong biji kemaluan ku.

“Bimo apa tidak sakit Bim …., Mama kan sudah lama tidak dimasuki ……”

“Tidak Ma….., Nanti Bimo akan pelan - pelan dan Mama akan merasakan nya nikmat..”

Dan ahhhhhk….., tersentak nafasku, Mama Nita sudah mengulum ujung batang kemaluan ku, dihisapnya dan sambil memaju dan memundurkan kepalanya aku rasakan setengah batang kemaluan ku sudah masuk kerongga mulut Mama Nita. aku biarkan dia menikmatinya sambil membuka baju ku, setelah itu, aku membuka baju Mama Nita yang sudah terlepas kancingnya tadi.

Sambil Mama Nita menikmati Batang kemaluanku, kedua tanganku juga meremas-remas buah dadanya dan sekali mengelus punggungnya dan yang lainnya. Pokoknya hampir seluruh badannya aku elus. Ciuman Mama Nita di batang kemaluan ku berhenti dan kedua tangan ku diraihnya, dan ditariknya sambil Mama Nita merebahkan kembali Badan nya, maka badan ku pun tertarik merebah menimpa diatas badannya.

” Mama sudah tidak sabar lagi kepengen meraskan batang milik anak Mama yang besar itu Bim ..”

“Iya … Sayang …. “ Sambut ku sambil menyambar bibir mungil Mama Nita.

Sembari mencium, pinggulku ku gerak-gerakan untuk mengarahkan Batang sakti ku masuk ke mulut Vagina Mama Nita yang sudah sempit lagi itu. Kurasakan Batang ku sudah menempel di Vaginanya, dan aku rasakan Mama Nita mengangkat pinggulnya untuk menekan rapat kebatang kemaluanku. Kuangkat pantat ku dan pelan kuarahkan ujung batang kemaluan ku tepat di tengah lubang yang basah ini, kutekan pelan-pelan dan ahkkkk tersentak badan Mama Nita.

“Sakit Ma ……??”, Tanya ku dan Mama Nita tidak menjawab dia hanya mendesih.. Ehhhhhhh. aku terus menekan sedikit demi sedikit, masuk sudah setengah kepala batang kemaluan ku. Kutekan terus dan sekarang seluruh kepala kemaluan ku sudah masuk di lobang nikmat ini. Kutekan terus per lahan dan pelan dan masuk lah setengah Batang ku tapi Mama Nita berteriak…..

“Aduhhhhhh … ahhkkk…”aku hentikan gerakan menekan ku dan akubertanya :

“Sakit Ma……,?? ”Dia mengangguk tapi kedua tangannya memegang pinggul ku seakan tidak membolehkan aku mencabut batang ku dari vaginanya.

aku berfikir, baru setengah sudah sakit dan terasa terjepit. Memang Batang ku cukup besar diatas normal sementara Mama Nita tipikal tubuh badan pribumi yang mungil dan memiliki barang yang sempit, aku jadi penasaran dan ingin merasakan nikmatnya kalau seluruh batang ku masuk. Perlahan kugerakan lagi pantatku menekan kedalam, lembut sekali dan sangat perlahan.

“Ehh… ahhh…, Bimo…. Ahhhhh…. Iya ehhhh ahh …. Bim …..,” itu lah suara yang keluar dari mulut Mama Nita seiring gerakan ku naik turun yang menyebabkan barang ku keluar masuk.

Sedikit-sedikit gerakan menekan kedalam aku tambah sehingga batang ku yang masuk semakin dalam. aku rasakan diujung batang ku seperti di hisap-hisap, alangkah nikmatnya, aku hampir tidak tahan. aku perkirakan semua batang ku sudah ambles kedalam karena terasa hangat dan nikmat. Dengan lembut aku rapatkan selangkangan ku sambil kedua tangan ku menguak dan mengangkat kedua kaki Mama Nita. Ku tekan rapat-rapat dan ku gerakkan memutar pinggul ku dengan pahaku menempel rapat dan semua batang ku telah masuk.

“Bim ….. nikmat sekali Bim, sudah lama sekali Mama tidak merasakan seperti ini, kamu pandai bermain seks … Nak… Mama … bisa ketagihan Bim….”aku terus memutar pinggul ku dan menciumi lehernya sambil merapatkan badan ku.

“Mama bisa minta kapan saja ….., Mama tinggal telepon dan Bimo pasti melayani Mama ……”

“Ma ….. punya Mama masih enak, rapat dan menghisap …., Bimo menikmatinya Ma…..”

“Ahhhkk Bim …., goyang ehhhhh, goyangnya lebih cepat sayang ….., Mama kayaknya mau dapat “

“ahhkkkk Bim ,,,, ya…. Uhhhh ……hekkk .. Bim……”aku hentikan sejenak goyangan ku dan kuperbaiki posisi ku dengan sedikit menarik dengkul ku agak menekuk agar pada saat dapat nanti aku bisa leluasa mengankat dan menekan pantat ku dengan leluasa.

“Jangan berhenti sayang …..”

“tenang Ma…. Kita dapatnya bareng, … pada saat dapat nanti Bimo akan keluar masuk kan punya Bimo biar Mama lebih nikmat lagi…. Kalau dapat Mama bilang Ya…..” aku sudah mulai menggoyang pinggul ku dengan merapatkan panggkal paha ku.

“Ma…. Sekarang nikmati, pejamkan mata Mama ….” Ku goyangkan terus berputar pinggul ku makin lama makin cepat

“Bimo …. Ahhhh, terus Bim…., Terus Sayang,….. auuu… ahh…., ya…. Bimo….Ya……”

“Uh ……ahhhh, eeeenak,,,, sekali anak ku….., kamu…. Ahhhhh, goyang … tekan,,,,,,” Semakin mengejang seluruh badan Mama Nita dan goyangan ku semakin cepat berputar.

“Bimo… ahhhh, Bim …. Bimmmm , Mam ….. ahhhh, ahhhh .., Bim ……. Dah……., Mama mau ….., Mama keluar anakku…..” Mendengar perkataan itu aku pun mempercepat goyang ku.“Bim…. Enak Bim,,,,,,,… terus Bimm…” aku tekan dan aku goyang terus, sambil aku menahan agar aku tidak keluar. Sengaja aku lakukan agar Mama Nita puas dulu baru aku keluar.

“Dapat yang panjang …. Ma,….. Ah,….. yang lama … Ma …. Puaskan Ma……”

“Mama puas Bim,,,,,…. Terus Bim,,,,,,,. Ahhhhh, ahh huhhhh…. Kamu dapat juga sayang …. “

aku hentikan goyangan ku dan dengan segera aku ganti dengan gerakan naik turun.

“Au …. Ahh… Bim ,,,,, , ya….Bim… yang kayak gini makin nikmat Sayang…..”

“Puas…. Puas…. Aduhh… enak sekali…. Ahhhhhh, yam,,,yahhhhhhh terus Bim …….” Gerakan naik turun ku semakin cepat dan batang ku terasa semakin keras nafas ku semakin tidak teratur.

“Ma… ahhhh, Ma….., ya….. Mama Sayangg ……, enak sekali Ma…., Punya Mama kering ……, auuu Aduhhhh”

“Ahhhhh, Mam…. Bim mau dapat Ma….”

“Dapat lah Sayang …. Dapatlah…., semburkan semua …… Mama sudah puas sekali….”

“Ayo …. Ayo Manja……”akupercepat gerakan ku sehingga bunyi yang terdengar semakin berdecak, agak kutegakkan badan ku mengambil posisi siap untuk menembakkan cairan dari Batang ku.

“Bimo dapat Ma …., Keluar ahhhhhh Ma,,,,,,,”.

“Bim…. Mama juga rasakan sayang…., hou…. Keras sekali sayang,,,,,,,, terus Nak……, puaskan manja….”

Semburan mani ku banyak sekali dan berulang ulang, tidak tahu berapa kali, dan gerakkan ku makin pelan dan akhirnya tubuh ku lunglai menimpa tubuh kecil Mama Nita. aku masih terkulai diatas Mama Nita sementara batangku belum kucabut dan masih kurasakan denyutan-denyut liang vagina Mama Nita.

Perlahan aku jatuh kesamping kanan Mama Nita yang sedang terbaring lunglai juga, aku masih memejamkan mata ku sambil menikmati permainan yang baru saja selesai. Mama Nita memiringkan badannya menghadapku dan tangan kirinya melingkari dada ku, dan menciumi pipi ku.

“Mama puas sekali Bim…, Terima kasih Na……,”dia terus menciumi pipi ku dan aku melirik sambil tersenyum. Kulihat dia sedang menyibak selangkangannya dengan tissue yang ada di meja samping tempat tidur, dan setelah selesai Mama Nita bangkit duduk mengelap batang ku.

Tag: Cerita Ngentot, Ml, Porno, Hot, Seksi, Bugil Cerita Dewasa, Sedarah, Cerita Pemerkosaan, Skandal Selebritis, Cerita Artis, Model, Pramugari, Cerita Terbaru Romantis.

0 comments "Cerita Dewasa | Ngentot Sadap Dengan Mama Nita Hot", Baca atau Masukkan Komentar

Post a Comment